Mau Deklarasikan KAMI, Antara Urgent atau Hanya Politik Praktis Saja

Read Time:1 Minute, 57 Second

JAKARTA – Fokus Pemerintah dalam upaya penanggulangan pandemi Covid-19 diganggu oleh sejumlah gerakan maupun kelompok yang terindikasi kepentingan politik. Bukan hanya mengancam stabilitas negara, kelompok ini juga akan mengganggu upaya Pemerintah yang sedang membangun perekonomian yang jatuh akibat pandemi Covid-19.

Satu diatara kelompok ini, yakni Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), yang digagas oleh sejumlah tokoh, seperti akademisi, pegiat demokrasi hingga mantan pejabat Pemerintah. Hal itu justru meningkatkan kecurigaan publik bahwa hadirnya kelompok ini hanya merupakan bentuk kekecewaan terhadap Pemerintah yang tidak memberi “jatah kekuasaan” kepada tokoh-tokoh yang terlibat di KAMI.

Publik pun semakin kritis akibat pembangunan sistem politik Indonesia yang terbuka. Masyarakat pun terlihat skeptis dengan narasi yang dibangun oleh KAMI. Bukan hanya sarat akan tendensi negatif saja, KAMI cenderung digunakan sebagai wadah inkonstitusional yang hanya bertujuan mendiskreditkan Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

KAMI berencana akan melaksanakan deklarasi pada tanggal 18 Agustus 2020, di Lapangan Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Sejumlah tokoh nasional akan hadir di antaranya, Ketua Komite Kerja (Komja) Ahmad Yani, Sekretaris Komja Syahganda Nainggolan dan deklarator yakni, M. Din Syamsuddin, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dan Rochmat Wahab.

Ketua Panitia Penyelenggara Deklarasi KAMI, Andrianto, mengatakan bahwa deklarasi juga akan dilaksanakan di sejumlah kota antara lain Medan, Palembang, Bandung, Solo, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Lombok. “Tidak hanya didalam negeri, deklarasi juga akan dilakukan di luar negeri, antara lain Dubai, London, Tokyo, Seoul, Los Angeles”, kata Andrianto.

Pengamat Komunikasi Politik dan Staf Dosen di Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, mengatakan publik wajar mempertanyakan maksud dari dibentuknya Kelompok Aksi Menyelamatkan Indonesia yang diinisasi Rocky Gerung dan lainnya.

“Tidak adanya alasan yang mendesak, sehingga kelompok itu cenderung hanya memperkeruh situasi politik Nasional. Lebih baik tokoh-tokoh yang tergabung dalam KAMI, menggunakan energinya untuk aksi nyata kemanusiaan membantu Pememrintah menanggulangi pandemi”, ujar Ari Junaedi.

Publik pun khawatir keberadaan KAMI hanya akan berujung pada pemenuhan aspirasi kelompok orang yang kecewa terhadap pemerintahan Joko Widodo semata. Akun @seruanhl mengatakan bahwa Ancaman satu-satunya yg dialami negara ini adl hoax, narasi provokatif & fitnah. Dan kita taulah orang-orang yg kerap melakukan hal-hal tsb di atas adl mereka yg ada di KAMI juga. Nah jika demikian, apanya yg mau mereka selamatkan? #KAMIbarisanSakitHati. Ujungnya kita akan mengetahui dengan jelas, apakah KAMI merupakan bentuk untuk menyelamatkan bangsa, atau hanya akal busuk untuk menciptakan instabilitas negara.

Anjas Wiguna (Penulis Pemerhati Sosial dan politik)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %