Kekhawatiran Masyarakat Akan Aktivitas KAMI Ancam Persatuan Bangsa

Read Time:1 Minute, 41 Second

04/09/2020 – Masifnya acara deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) diberbagai wilayah turut menjadi perhatian masyarakat. Banyak pihak yang menyayangkan acara tersebut dilaksanakan ditengah pandemi Covid-19 yang belum usai. Sebab kegiatan itu dihadiri oleh sejumlah massa yang dikhawatirkan akan menjadi klaster baru penyebaran virus Covid-19. Tidak hanya berhenti disitu saja, aktivitas KAMI juga dinilai akan menjadi ancaman bagi persatuan bangsa.

Hal itulah yang menjadi alasan Aliansi Masyarakat Cipayung menolak keberadaan kelompok yang diinisiasi oleh Din Syamsuddin cs. Koordinator aksi, Sakuntala menyebut bahwa alasan penolakan kelompoknya karena khawatir akan memicu perpecahan di masyarakat akibat provokasi-provokasi yang dikeluarkan KAMI.

“Masyarakat khawatir kemunculan KAMI berpotensi menimbulkan konflik politik yang berujung pada perpecahan bangsa. Tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar dari KAMI terhadap kondisi Indonesia saat ini merupakan upaya mengakumulasi gerakan politik tokoh-tokoh yang tidak mendapatkan kekuasaan,” ujar Sakuntala.

Apalagi, lanjut Sakuntala, terbentuknya koalisi ini dapat memperburuk situasi Nasional yang tengah menghadapi pandemi. Ia menyebut, sebaiknya tokoh-tokoh yang terlibat dalam KAMI untuk mendukung Pemerintah untuk penanggulangan Covid-19. “Semestinya, ditengah pandemi, tokoh-tokoh yang terlibat dapat memberikan literasi yang benar terhadap masyarakat,” lanjutnya.

Ditempat terpisah, juga muncul penolakan terhadap kegiatan KAMI. Gabungan Ormas dan LSM Kota Madiun tegas menolak KAMI. Mereka menilai bahwa kehadiran KAMI malah akan memecah anak bangsa dengan berbagai pernyataan-pernyataan yang disampaikan diruang publik. Koordinator Gabungan Ormas dan LSM Kota Madiun, Budi Santoso, memandang narasi yang dibangun KAMI sangat tidak logis.

“Masyarakat Kota Madiun tergas menolak keberadaan KAMI di Jawa Timur, karena dikhawatirkan menyebabkan terjadinya perpecahan persatuan dan kesatuan bangsa. Apalagi tuntutan yang disampaikan KAMI cenderung tidak logis, bahkan meminta paksa Presiden yang terpilih secara konstitusional untuk mundur,” ujar Budi.

Budi pun merasa ditengah fokus Pemerintah terhadap penanganan Covid-19, sebaiknya tokoh-tokoh lebih mengedepankan memberikan literasi ke masyarakat untuk tetap menjaga diri dari ancaman covid-19 maupun berbagai provokasi-provokasi yang dapat memunculkan konflik. “Disaat pandemi Covid-19 masih terjadi, sebaiknya para tokoh untuk tidak memainkan politik konspirasi, dan masyarakat pun bersatu guna menjaga kedaulatan bangsa Indonesia,” tutup Budi. (DR)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %