Eksistensi KAMI Terus Meluas, Publik Khawatir Akan Memecah Belah Masyarakat

Read Time:3 Minute, 2 Second

05/09/2020 – Eksistensi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) terus melebar. Mereka diketahui mendeklarasikan diri di berbagai wilayah untuk mendapat dukungan publik. Deklarator KAMI, Din Syamsuddin menyebut gerakan koalisi ini tidak menutup kemungkinan berpolitik. Dia menilai setiap orang diperbolehkan untuk berpolitik yang telah diatur didalam Undang-Undang.

Namun, berbagai pihak menilai sikap tersebut berbeda saat KAMI mendeklarasikan di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Saat itu, tokoh-tokoh yang tergabung di KAMI, menyebut gerakan ini lebih mengedepankan gerakan moral ketimbang politik. Situasi ini kini menjadi kontraproduktif karena naras-narasi yang disuarakan KAMI cenderung politis dan mendiskreditkan Pemerintah. Sehingga tidak sedikit pihak yang menolak kemunculan KAMI diberbagai daerah.

Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Pacitan, Syahri, menyebut kehadiran KAMI malah akan menciptakan polarisasi di masyarakat. Sebab kelompok ini dinilainya mempergunakan berbagai isu strategis untuk memecah masyarakat. Sehingga, lanjut Syahri, organisasinya tegas menolak kemunculan KAMI. “Kita menolak adanya gerakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), karena gerakan tersebut dapat memecah belah bangsa yang selama ini telah bersatu meski beda beda suku dan agama,” ujar Syahri.

Lebih lanjut, Syahri, meminta tokoh-tokoh yang tergabung didalam KAMI untuk menghentikan berbagai serangan bersentimen negatif ke Pemerintah dan lebih meluangkan waktu untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. “Lebih baik KAMI menghentikan berbagai propaganda yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,” lanjutnya.

Ditempat terpisah, Ketua DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) DIY, Ruswadi, mengatakan sebaiknya jangan ada pihak-pihak yang dicurigai memanfaatkan situasi Nasional di tengah pandemi ini untuk mengganggu jalannya Pemerintahan. Sebab Pemerintah dan masyarakat sedang fokus pada penanggulangan Covid-19. Jangan sampai kehadiran kelompok itu, malah justru memecah belah anak bangsa.

“KSPSI Yogya menolak adanya kelompok yang mengatasnamakan Indonesia tetapi justru berpotensi memecah belah keutuhan NKRI,” ujar Ruswandi. Lanjut Ruswandi, sebaiknya masyarakat menghindari provokasi-provokasi yang justru akan membuat keributan di masyarakat. (DR)

*Eksistensi KAMI Terus Meluas, Publik Khawatir Akan Memecah Belah Masyarakat*

Eksistensi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) terus melebar. Mereka diketahui mendeklarasikan diri di berbagai wilayah untuk mendapat dukungan publik. Deklarator KAMI, Din Syamsuddin menyebut gerakan koalisi ini tidak menutup kemungkinan berpolitik. Dia menilai setiap orang diperbolehkan untuk berpolitik yang telah diatur didalam Undang-Undang.

Namun, berbagai pihak menilai sikap tersebut berbeda saat KAMI mendeklarasikan di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Saat itu, tokoh-tokoh yang tergabung di KAMI, menyebut gerakan ini lebih mengedepankan gerakan moral ketimbang politik. Situasi ini kini menjadi kontraproduktif karena naras-narasi yang disuarakan KAMI cenderung politis dan mendiskreditkan Pemerintah. Sehingga tidak sedikit pihak yang menolak kemunculan KAMI diberbagai daerah.

Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Pacitan, Syahri, menyebut kehadiran KAMI malah akan menciptakan polarisasi di masyarakat. Sebab kelompok ini dinilainya mempergunakan berbagai isu strategis untuk memecah masyarakat. Sehingga, lanjut Syahri, organisasinya tegas menolak kemunculan KAMI. “Kita menolak adanya gerakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), karena gerakan tersebut dapat memecah belah bangsa yang selama ini telah bersatu meski beda beda suku dan agama,” ujar Syahri.

Lebih lanjut, Syahri, meminta tokoh-tokoh yang tergabung didalam KAMI untuk menghentikan berbagai serangan bersentimen negatif ke Pemerintah dan lebih meluangkan waktu untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. “Lebih baik KAMI menghentikan berbagai propaganda yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,” lanjutnya.

Ditempat terpisah, Ketua DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) DIY, Ruswadi, mengatakan sebaiknya jangan ada pihak-pihak yang dicurigai memanfaatkan situasi Nasional di tengah pandemi ini untuk mengganggu jalannya Pemerintahan. Sebab Pemerintah dan masyarakat sedang fokus pada penanggulangan Covid-19. Jangan sampai kehadiran kelompok itu, malah justru memecah belah anak bangsa.

“KSPSI Yogya menolak adanya kelompok yang mengatasnamakan Indonesia tetapi justru berpotensi memecah belah keutuhan NKRI,” ujar Ruswandi. Lanjut Ruswandi, sebaiknya masyarakat menghindari provokasi-provokasi yang justru akan membuat keributan di masyarakat. (DR)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %