Waspada! Pendeta Socratez Yoman Lakukan Pembelaan Sebut Tak Ada Kelompok Separatis di Tanah Papua
impresionis.com – Seperti tak pernah jera dengan sejumlah provokasi yang disampaikan di tengah upaya pemerintah mencari keberadaan pilot Susi Air yang diisukan disandera oleh kelompok Separatis. Sebuah artikel bernuansa persuasif sekaligus provokatif kembali disampaikan oleh pendeta berpredikat politis Socratez Yoman melalui unggahan artikel di normshedpapua.com yang dengan banggannya menyatakan bahwa di wilayah Papua dari sejak zaman leluhur tidak pernah ada yang namanya kelompok separatis, teroris, atau kelompok bersenjata. Baginya, yang ada adalah manusia-manusia pemilik sah dusun atau tanah Papua yang terjajah.
Baginya TPNPB-OPM merupakan pilar militer, bukan separatis. Mereka bergejolak karena penguasa Indonesia membangun Papua dengan mitos, label, stigma, rasisme, dan moncong senjata untuk tujuan ekonomi dan kapitalisme. Perkara Papua merdeka atau tidak, menjadi nomor kesekian. Menjadi hal penting dan utama ialah tetap berjuang melawan pendudukan dan kolonialisme Indonesia yang disebut rasis dan facis. Mitos KKB, mitos separatis, mitos makar, serta teroris disebut diproduksi oleh penguasa Pemerintah dan TNI-POLRI. Pepera tahun 1969 disebut tidak adil dan dimenangkan oleh ABRI dengan cara-cara yang tidak beradab, kejam, brutal, dan biadab serta tidak manusiawi kepada orang-orang Papua.
Sebuah tulisan provokatif berupaya memutarbalikkan fakta bahwa kelompok separatis yang selama ini banyak berulah hingga menimbulkan jatuhnya korban masyarakat sipil adalah upaya pembelaan terhadap tanah Papua yang sedang dijajah. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah sebaliknya. Kehadiran TPNPB-OPM adalah benalu bagi masyarakat yang kehadirannya justru jauh dari ketentraman dan kedamaian. Bahkan, kabar terbaru, sejumlah masyarakat di distrik Paro Kabupaten Nduga kembali diancam menyusul adanya isu penyanderaan pilot Susi Air yang pesawatnya dibakar oleh OPM pimpinan Egianus Kogoya beberapa hari lalu.
Jejak Socratez Yoman: Pendeta Politik Simpatisan Lukas Enembe yang Pro Kemerdekaan Papua
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Socratez Yoman merupakan salah satu tokoh agama yang juga merangkap aktivis pro kemerdekaan Papua. Ia memiliki concern bidang ideologi mempengaruhi masyarakat untuk turut serta memperjuangkan kemerdekaan wilayah Papua dari Indonesia. Dalam perjalanannya, kiprah Socratez sebagai penggembala umat justru tersusul oleh sejumlah aktivitasnya yang tendensius pada upaya politik untuk melepaskan diri dari Indonesia. Sejumlah jejak dari kegiatan dan gerakan politiknya telah membuat sejumlah pihak merasa keberatan, tidak terima, bahkan hingga menyulut provokasi.
Pengamat politik masalah Papua alumnus Universitas Indonesia (UI), Toni Sudibyo pernah merespon pernyataan Socratez pada tahun 2014 terkait penyusunan Otsus serta implementasinya bahwa Indonesia hanya bersandiwara dengan membiarkan orang Papua musnah melalui kekerasan negara selama hampir 50 tahun. Menurutnya, pernyataan Socratez merupakan strategi dasar para pendukung OPM di dalam maupun di luar negeri untuk melakukan segala upaya sehingga program Otsus dan program pembangunan gagal, dimana skenario selanjutnya adalah dorongan penentuan sikap politik melalui referendum untuk melepaskan diri dari Indonesia.
Socratez Yoman juga bersikap kontradiktif dengan mengapresiasi peresmian kantor ULMWP di Wamena pada tahun 2016. Fakta yang terkuak kemudian, peresmian tersebut ternyata menungganggi acara syukuran masyarakat Wamena atas berdirinya kantor Dewan Adat Papua (DAP). Beberapa masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut kecewa karena merasa dibohongi. Di tahun 2011 Socratez juga pernah melakukan kebohongan publik mengklaim ULMWP dipilih secara sah oleh rakyat Papua dalam Konferensi Perdamaian Papua (KPP) pada 5-7 Juni 2011 di Auditorium Universitas Cenderawasih Papua. Faktanya, kegiatan tersebut tenyata berisi seminar dan dikusi dengan tema “Mari Kitong Bikin Papua Jadi Tanah Damai”.
Selanjutnya, di tahun 2016 pernyataan Ketua MRP Papua Barat Vitalis Yumte bahwa perjuangan politik Papua sudah final melalui dua fase masing-masing Pepera 1969 dan Otsus 2001, dibantah oleh Socratez. Menurutnya pernyataan tersebut tidak mewakili suara nurani orang asli Papua. Ia bersikeras tak ada istilah final dalam kehidupan masyarakat, tapi selalu ada dinamika dan proses politik. Pernyataan tersebut direspon oleh generasi muda Papua Emus Kogoya bahwa Socratez bukan seorang politikus, menurutnya yang dimaksud final bukan kebijakannya, tetapi status politik bahwa Papua secara sah merupakan bagian dari NKRI. Jika saat ini terdapat kebijakan Otsus, DOB, dll, merupakan upaya percepatan pembangunan di Papua. Hal senada juga diungkapkan oleh seorang mahasiswa Papua di Jakarta bernama Emilia Karubaga yang juga turut merespon pernyataan Socratez, menurutnya tidak mencerminkan seorang pendeta, namun cenderung provokator yang selalu memperkeruh dengan bersembunyi dibalik agama. Semestinya dirinya membuat sejuk hati umat, bukan membuat panas.
Sikap menyesalkan Socratez juga pernah ditunjukkan oleh Ketua Pemuda Mandala Trikora Provinsi Papua, Ali Kabiay. Dirinya menyesalkan pernyataan Socratez Yoman dalam status di akun Facebook atas nama Socratez Sofyan Yoman pada tanggal 1 November 2020 terkait pembentukan organisasi P5 atau Presidium Putra Putri Pejuang Pepera, di sentani yang diketuai oleh Bapak Yanto Eluay. Menurut Ali, pendeta Socratez sebaiknya tidak terlalu mengurusi masalah politik di Papua dan belajar menghargai keputusan Ondoafi Yanto Eluay sebagai ketua P5. Ia berharap Pendeta Socratez menunjukkan jati diri sebagai pelayan umat, bukan inspirator politik.
Masih berkaitan dengan unggahan di media sosial, pada tahun 2021 Pendeta Socratez juga pernah mengunggah narasi dengan menyebut bahwa Indonesia sebagai penjajah yang memadukan rasisme di tanah Papua. Unggahan tersebut kemudian direspon oleh pemerhati isu strategis dan masalah Papua, Prof. Imron Cotan bahwa sebagai seorang doktor, pendeta, dan tokoh masyarakat, tidak seharusnya Socratez memutarbalikkan sejarah dengan pura-pura tak tahu kronologi sejarah kemerdekaan Indonesia dan hubungannya dengan Tanah Papua, bahkan mengatakan Indonesia sebagai bangsa “penjajah”.
Terakhir, Socratez Yoman juga memiliki peran dalam kasus Lukas Enembe. Dirinya pernah mengklaim bahwa sang tersangka merupakan manusia berbudi luhur serta pemimpin jujur. Usut punya usut terdapat bukti yang mengarah bahwa Socratez menjadi tokoh agama sekaligus corong pembela Lukas Enembe, terindikasi sang pendeta politik ini mendapat aliran dana dari gubernur non aktif agar turut mendukung eksistensinya. Di salah satu tulisannya, ia pernah menyebut bahwa para jenderal berbintang didukung Menko Polhukam dan KPK sedang berperang melawan Lukas Enembe untuk kepentingan konspirasi politik tahun 2024. Kemudian, KPK dan Menko Polhukam disebut menyebarkan informasi yang tidak benar dan menyesatkan. Sekilas pernyataan tersebut terlihat meyakinkan, terlebih disampaikan oleh tokoh agama, namun kebenaran atas kalimat-kalimat tersebut perlu mendapat verifikasi melalui sejumlah bukti. Jika tidak, hanyalah musang berbulu domba dengan indikasi agenda yang sedang coba dimainkan untuk melindungi Lukas Enembe. Faktanya, setelah terdapat pengakuan dari seorang tokoh Papua, didapatkan informasi bahwa segala tulisan bernada kritis dan cenderung bernada sentimen negatif terhadap pemerintah tersebut merupakan pesanan dari Lukas Enembe. Keberpihakan Socratez Yoman untuk membela Lukas Enembe disebut sebagai faktor balas jasa.
Catatan Kejahatan Tokoh Separatis Papua Egianus Kogoya
Opini Socratez Yoman bahwa tak ada kelompok separatis di Papua jelas perlu dikoreksi. Sebagai salah satu contoh, kelompok OPM pimpinan Egianus Kogoya berdasarkan rekam jejaknya pernah melakukan kejahatan hingga 16 kali, dimana terdapat 46 korban jiwa, hingga yang terbaru adalah pembakaran pesawat Susi Air. Berdasarkan catatan dari Kepala Operasi Damai Cartenz, Kombes Faisal Ramadhani, kelompok Egianus Kogoya melakukan sejumlah kejahatan sejak Desember 2017, meliputi aksi asusila hingga pembunuhan, dan yang terakhir adalah pembakaran pesawat yang disertai dengan isu penyanderaan pilot Susi Air serta ancaman terhadap masyarakat di distrik Paro Kabupaten Nduga. Maka sudah dapat dipastikan bahwa segala yang ditulis oleh Socratez Yoman berlawanan dengan fakta sebenarnya. Masyarakat Papua sudah terlalu direpotkan dengan keberadaan kelompok separatis yang meresahkan.
Aparat Pastikan Pilot Susi Air Masih Hidup
Mengutip keterangan dari pihak pemerintah melalui pernyataan Komandan Korem (Danrem) 172/PWY, Brigjen TNI J.O Sembiring menduga bahwa pilot Susi Air masih hidup bersama kelompok separatis pimpinan Egianus Kogoya disebuah tempat. Meski belum bisa dipastikan posisinya, pihaknya sangat berharap bantuan dari berbagai pihak agar sang pilot dapat segera diketemukan dan dilakukan evakuasi.
__
Agus Kosek
(Pemerhati Masalah Papua)