Wilayah Distrik Paro dan Sekitarnya Dipastikan Tak Berpenghuni Pasca Terjadi Ancaman dari Egianus Kogoya
impresionis.com – Jika terdapat pihak-pihak yang masih mendukung atau menganggap aksi kelompok separatis adalah sebuah perjuangan demi suatu tujuan kemerdekaan. Mungkin perlu dipertanyakan lagi akal sehat dari orang-orang tersebut. Dalam konteks kelompok separatis Papua pimpinan Egianus Kogoya di Kabupaten Nduga. Sederet rekam jejak aksi brutal telah menjadi saksi sekaligus dasar mengapa kelompok ini sudah sepantasanya segera ditangani melalui jalur penegakan hukum. Sudah terlalu banyak masyarakat hingga aparat yang menjadi korban dari kebengisan gerombolan yang kerap bergerak secara hit and run tersebut.
Kepolisian daerah Papua melalui Kabid Humas Polda Papua, Kombes Iganatius Benny Ady Prabowo telah merilis data terkait aksi yang pernah dilakukan Egianus Kogoya dalam kurun 5 tahun terakhir. Tercatat sejumlah 65 aksi teror kejahatan dari tahun 2017 hingga 2023. Yakni, 31 aksi penembakan, 16 aksi kontak tembak, 8 aksi penyerangan, 3 aksi pembantaian, dan 2 aksi pembakaran. Egianus Kogoya juga pernah melakukan aksi pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, pengancaman, hingga yang terakhir adalah pembakaran pesawat Susi Air serta penyanderaan sang pilot berkebangsaan Selandia Baru di wilayah Kabupaten Nduga.
Adanya insiden yang bertempat di lapangan terbang distrik Paro yang disusul dengan penyanderaan terhadap sang pilot tersebut telah berdampak pada sejumlah hal, salah satunya terhadap masyarakat di sekitar. Ancaman yang digencarkan oleh Egianus Kogoya berdampak pada munculnya gelombang pengungsian masyarakat distrik Paro dan sekitarnya. Mereka berjalan kaki melewati hutan dan gunung sebelum akhirnya dievakuasi oleh aparat gabungan menggunakan helikopter.
Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua, Pdt. Tilas Moom, M.Th menyebut, bahwa selain Distrik Paro, terdapat empat distrik lain yang ikut terdampak hingga membuat masyarakat kampung terpaksa mengungsi pasca insiden penyanderaan pilot Susi Air Philip Mark Mehrtens. Keempat distrik yang berdekatan dengan distrik Paro adalah Yuguru, Geselama, Yenggelo dan Mapenduma. Para warga merasa takut dan khawatir dengan ancaman yang dilakukan oleh kelompok Egianus Kogoya. Keputusan masyarakat setempat untuk mengungsi ke daerah lain hingga lintas kabupaten, berangkat dari trauma masa lalu yang melibatkan konflik bersenjata antara pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)-Organisasi Papua Merdeka (OPM). Saat itu di Mapenduma pada tahun 1996, pernah terjadi penyanderaan serta operasi militer.
Pdt. Tilas menjelaskan bahwa berdasarkan laporan dari Koordinator Gereja Kingmi Kabupaten Nduga, Pdt. Eliazer Tabuni di Kenyam. Dirinya mengalami kendala untuk memantau dan mendata umat gereja dari distrik-distrik lain yang sudah meninggalkan tempat beberapa hari pasca penyanderaan pilot Susi Air. Terdapat tiga jalur tujuan dalam proses pengungsian. Pertama, warga dari distrik Paro ke Kenyam. Mereka harus keluar dari Paro baru bisa menggunakan mobil dan jemputan heli. Mereka yang sudah ada di pos pengungsi dan rumah keluarga di Kenyam. Jalur kedua dan ketiga, warga keluar dari Paro ke Agimuga untuk tujuan Timika dan Paro ke Mapenduma untuk jalur ke Wamena.
Sekretaris Sinode Kingmi di Tanah Papua, Pdt. Dominggus Pigay, M.Th mengharapkan perhatian dan pantauan dilakukan oleh semua pihak terhadap kasus Nduga. Gereja Kingmi di Tanah Papua mendukung pendekatan persuasif dan membangun negosiasi untuk membebaskan pilot Susi Air tersebut demi meminimalisir kekerasan dan bentuk-bentuk pelanggaran HAM.
Kelompok Separatis Pimpinan Titus Murib Barkar Rumah Warga dan Tembaki TNI-Polri di Ilaga, Papua Tengah
Tak hanya yang terjadi di Nduga oleh kelompok Egianus Kogoya yang kini menyedot perhatian publik. Di tengah upaya pencarian sang pilot, kembali terjadi lagi ulah aksi kelompok separatis kali ini dibawah pimpinan Titus Murib Barkar di Ilaga Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Mereka baru saja membakar sebuah rumah warga dan menembaki TNI-Polri. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu 18 Februari 2023 siang waktu setempat.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ignatius Benny dalam siaran pers menyatakan bahwa pembakaran dilakukan di sebuah rumah samping Tower Telkom di Kampung Kago. Tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa tersebut karena rumah yang dibakar dalam kondisi tidak berpenghuni. Kejadian berawal dari adanya informasi asap tebal yang membubung. Tim personel kepolisian menuju ke lokasi sumber asap yang berada di Kampung Kago, dan menemukan rumah sudah dalam kondisi terbakar. Saat petugas datang, terjadi tembakan senjata ke arah petugas. Personel kepolisian dari lokasi kejadian melaporkan dan meminta bantuan. Setelah dilakukan pengejaran terhadap pelaku, kelompok yang melakukan pembakaran lari ke arah Kampung Nipuralome.
TNI Polri Maksimalkan Pendekatan Dialog Sebelum Laksanakan Penegakan Hukum
Kapolda Papua, Irjen Pol Mathius Fakhiri mengungkapkan bahwa pihaknya menggunakan dua cara untuk memonitor pergerakan kelompok Egianus. Yakni menurunkan anggota di lapangan serta menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh. Sementara itu, Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI, Muhammad Saleh Mustafa menyatakan bahwa penegakan hukum yang bakal dilakukan kepada Egianus Kogoya sebagai tindak lanjut setelah pendekatan dialog akan dilakukan secara terukur dan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Prajurit yang TNI kerahkan bersama Polri untuk melakukan tindakan penegakan hukum sudah dibekali berbagai keterampilan sehingga nantinya tidak akan terjadi pelanggaran HAM.
Saat ini masyarakat yang tinggal di distrik Paro dan sekitarnya telah mengungsi ke Kenyam, Ibukota Kabupaten Nduga. Pengosongan wilayah Paro bukan tanpa tujuan, hal tersebut untuk memudahkan proses penegakan hukum jika nantinya benar-benar dilaksanakan.
Harapan adanya dialog antara pemerintah pusat dan masyarakat Papua seperti yang disarankan sejumlah pihak belum dapat dipastikan akan membawa pengaruh besar dalam penyelesaian konflik, khususnya di Papua. Misi panjang mereka adalah lepas dari Indonesia bagaimanapun kondisinya. Salah satu faktor pembentuknya adalah doktrin dan pengaruh dari pemimpin kelompok tersebut. Benny Wenda misalnya, atau beberapa panglima mereka di setiap wilayah, salah satunya Egianus Kogoya. Dengan modal kewibawaan mampu mempengaruhi sebagian besar anggotanya yang mungkin tidak memiliki pengetahuan yang lebih tinggi darinya serta memiliki sikap militan dalam setiap aksi yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah ataupun menyinggung kemerdekaan. Di benak mereka, mungkin ketika Papua lepas dari Indonesia akan lebih maju dari sebelumnya, padahal kenyataannya tidak demikian. Timor leste adalah bukti nyata.
Pada akhirnya, keputusan untuk bertindak tegas menjadi evaluasi dari pola pendekatan di Papua yang sebelumnya cenderung defensif dengan melindungi objek vital dan membangun pos-pos pengamanan. Perubahan pola dengan proses penegakan hukum seyogyanya juga mengedepankan peran dan keterlibatan masyarakat sipil agar nantinya tidak salah sasaran.
__
Agus Kosek
(Pemerhati Masalah Papua)