Mediasi antara masyarakat dan aparat TNI Polri dalam Kerusuhan di Wamena

Wamena Rusuh, Sumber Isu Hoaks dari Pesan Berantai yang Menyulut Emosi Masyarakat

Read Time:4 Minute, 22 Second

impresionis.com – Menjadi sebuah indikasi awal bahwa adanya pihak yang ingin memanfaatkan kondusifitas di wilayah Papua bukanlah isapan jempol belaka. Di tengah upaya pemerintah melalui aparat TNI-Polri membebebaskan pilot Susi Air yang disandera OPM pimpinan Egianus Kogoya. Terdapat sejumlah kejadian yang mengarah pada aksi gangguan keamanan yang pada akhirnya mengorbankan warga masyarakat di sejumlah wilayah Papua. Setelah sebelumnya terdapat ancaman terhadap masyarakat Paro dan distrik sekitar yang berakhir evakuasi melalui jalur udara, kemudian tuduhan terhadap salah satu warga yang berakhir pembunuhan di Dekai Yahukimo. Kini baru saja terjadi kerusuhan di Distrik Wamena Kabupaten Jayawijaya yang menyebabkan 9 orang meninggal dunia dan 23 orang luka-luka. Sementara dari aparat keamanan, 1 anggota terkena luka panah dan beberapa orang luka terkena lemparan batu. Insiden tersebut ditengarai disebabkan oleh adanya kabar hoaks berkaitan dengan isu penculikan anak.

Berdasarkan keterangan Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ignatius Benny Ady Prabowo dijelaskan bahwa pihaknya hingga kini masih menelusuri penyebar hoaks penculikan anak dan orang yang memprovokasi sehingga terjadi bentrok antara aparat keamanan dengan warga di Kampung Sapalek, Jalan Trans Irian, Wamena, Jayawijaya Papua Pegunungan. Selain adanya korban meninggal maupun luka, dampak dari kejadian tersebut diperkirakan terdapat 100 masyarakat pendatang yang mengungsi di Kodim 1702/Jyw, 50 orang di perumahan Koramil Sinakma, dan 50 orang di Polres Jayawijaya. Hingga saat ini disebutkan bahwa aparat TNI-Polri masih melaksanakan siaga dalam rangka mengantisipasi adanya hal-hal yang tak diinginkan.

Sumber Isu Hoaks dari Pesan Berantai yang Menyulut Emosi Masyarakat

Berdasarkan keterangan dari sejumlah sumber didapatkan informasi bahwa penyebab awal dari adanya kerusuhan tersebut muncul dari adanya pesan berantai dari aplikasi perpesanan Whatsapp. Disebutkan dalam pesan tersebut terdapat kendaraan jenis pick up yang membawa anak kecil diduga sebagai tindakan penculikan. Selain itu, tersebar juga isu bahwa pihak kepolisian berupaya melindungi pelaku yang dituding merupakan warga pendatang. Tanpa melalui kroscek dan konfirmasi, masyarakat Wamena lansung mempercayai dan bertindak melawan hukum. Akibatnya, emosi massa tersulut hingga melakukan pembakaran ruko dan kios warga di Kampung Lantipo, Distrik Wamena Kota. Massa juga sempat menyerang aparat yang hendak meredam kerusuhan.

Secara kronologi, kerusuhan berawal dari adanya seorang sales bahan makanan yang datang ke kios Elekma untuk menawarkan barang. Tiba-tiba masyarakat setempat menuduh bahwa sales tersebut akan melakukan aksi penculikan seorang anak, sehingga masyarakat orang asli Papua (OAP) berkerumun dan berkumpul di depan kios masyarakat pendatang tersebut. Kapolres Jayawijaya, AKBP Hesman S Napitupulu SH sempat melakukan mediasi dan meminta Masyarakat agar mempercayakan kepada Polisi serta menyelesaikan masalah di polres bersama sama dengan tokoh adat dan tokoh masyarakat.

Selanjutnya, pihak Kepolisian membawa tertuduh penculikan anak tersebut ke Polres dengan kendaraan Resmob Polres Jayawijaya. Namun pada Pukul 13.46 WIT, kerusuhan pecah akibat provokasi massa meliputi tiga titik, yakni perempatan pasar Sinakma, perempatan pasar Sinakma arah Sungai Hom hom serta pertigaan Sinakma arah jalan Irian (kantor kampung Lantipo). Pukul 14.51 WIT Dandim 1702/JYW mendatangi lokasi kejadian di Sinakma mencoba menenangkan massa. Namun pada pukul 16.48 WIT, massa semakin brutal dan melakukan pelemparan mobil Dinas Dandim Jayawijaya.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ignatius Benny Ady Prabowo menyatakan bahwa terduga pelaku penculikan anak sudah diamankan di Polres Jayawijaya. Akan tetapi masyarakat menuntut agar terduga dikeluarkan, dan dihakimi oleh massa. Akibatnya menolak permintaan massa tersebut, pihak Kepolisian diserang dengan menggunakan batu dan panah.

Darurat Literasi Media untuk Masyarakat Papua

Ingatan masyarakat terhadap setiap adanya kerusuhan pasti mengarah pada peristiwa yang pernah terjadi di sejumlah wilayah Papua sebelumnya. Kasus kerusuhan tahun 2019 contohnya, berawal dari kejadian di Surabaya dan Malang yang kemudian merembet pada kejadian kerusuhan di sebagian wilayah Papua. Isu rasisme yang didukung dengan kecepatan informasi melalui media sosial ataupun media online mampu menjadi sumbu atau pemantik sikap emosional yang jauh dari pikiran rasional maupun pertimbangan logika. Meski kali ini berangkat dari isu tindakan kriminal, namun percikan rasisme bisa saja terjadi melibatkan orang asli Papua (OAP) dan masyarakat pendatang. Perbedaan fisik antara OAP dengan masyarakat Indonesia dari daerah lain menjadi sesuatu perbedaan yang nampak. Namun lebih dari itu, perbedaan pandangan terhadap masyarakat wilayah timur Indonesia justru lebih kepada stereotip sebagai masyarakat yang tertinggal. Termasuk dalam hal ini juga dalam hal berkomunikasi serta dalam hal bermedia.

Kecepatan informasi yang tak diimbangi dengan nalar untuk melakukan konfirmasi hanya akan berdampak pada kesia-siaan. Terlepas dari motif pihak-pihak tertentu yang berupaya menggoyang kondusifitas beberapa wilayah Papua. Jika masyarakat kemudian mampu untuk menelaah informasi lebih teliti, maka kerusuhan yang rentan untuk diprovokasi hingga ditunggangi tidak akan terjadi.

Wamena Berangsur Kondusif, Masyarakat Diminta Tak Mudah Terprovokasi

Hingga kini situasi di Wamena dipastikan berangsur-angsur kondusif, namun sejumlah aparat TNI-Polri masih ditempatkan di beberapa titik untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.

Wakil Bupati Jayawijaya Marthin Yogobi mengimbau warga supaya tidak memicu kericuhan meluas di wilayah Jayawijaya. Bupati Jayawijaya juga meminta warga agar tak mudah terpengaruh dengan isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ia mengakui bahwa terdapat banyak kelompok masyarakat di Jayawijaya yang tak dapat dikendalikan oleh pemerintah atau pun para tokoh adat, agama dan tokoh masyarakat Hal ini dikarenakan Jayawijaya menjadi kabupaten heterogen. Kepada setiap kelompok masyarakat agar memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga keamanan dan tak terprovokasi dengan situasi yang ada. Perisitiwa kerusuhan yang terjadi hanya di wilayah Sinakma. Diharapkan tidak ada pemahaman di luar bahwa kejadian terjadi di seluruh Kabupaten Jayawijaya.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %